Home > Berita > Seputar Indonesia > Memahami Permasalahan Autisme di Indonesia

Main Menu


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/sloki/user/pksqatar/sites/pks-qatar.net/www/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

Login



Who's Online

We have 12 guests online

Site info..?

Giveaway of the day

Visitor Data

Memahami Permasalahan Autisme di Indonesia PDF Print E-mail
User Rating: / 1
PoorBest 
Berita - Seputar Indonesia
Written by Al-Faqir   
Monday, 19 April 2010 11:38

Memahami Permasalahan Autisme di Indonesia

Vera Farah Bararah - detikHealth


img
(Foto: newbabybornzone)

Jakarta, Anak-anak yang memiliki gejala autis sudah ada sejak zaman dahulu, tapi tak sedikit dari anak-anak ini yang mendapatkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Lalu apa saja masalah autisme yang ada di Indonesia?


Anak-anak yang memiliki gejala autisme sudah ada di Indonesia sekitar tahun 1990. Awalnya penyakit ini sering dikira hanya penyakit orang kaya saja, padahal semua orang dari berbagai ras, ekonomi sosial dan tingkatan pendidikan bisa terkena autisme.

"Angka kejadian autisme di Indonesia cukup meningkat dan sudah mengkhawatirkan. Tapi hingga kini di Indonesia permasalahan autisme masih sangat rumit," ujar Dr Melly Budhiman, SpKJ dalam acara Expo Peduli Autisme 2010, di Gedung Sucofindo, Jakarta, Sabtu (17/4/2010).

Lebih lanjut Dr Melly menuturkan ada 8 permasalahan autisme di Indonesia, yaitu:

1. Geografis Indonesia yang terlalu luas
Indonesia terdiri dari 17.000 pulau dan hanya sekitar 800 pulau yang berpenghuni. Hal inilah yang menimbulkan kesulitan dalam menjangkau anak-anak autis di daerah-daerah. Hingga kini diperkirakan anak autis di Indonesia bagian timur belum tertangani dengan baik. Selain itu anak-anak autis yang berada di pulau lain hanya sedikit yang bisa membawa anaknya ke Jakarta, sedangkan penanganan autisme itu membutuhkan waktu jangka panjang.

"Karena besarnya luas Indoensia jadinya sulit untuk melakukan survei atau pendataan mengenai penyandang autis di Indonesia," tambahnya.

2. Sulitnya penanganan autis di berbagai daerah
Banyaknya etnis yang ada di Indonesia juga terkadang menyebabkan adanya persepsi yang berbeda-beda mengenai penanganan autisme. Pada daerah yang memiliki kepercayan tinggi terhadap magis-mistis akan lebih percaya jika anaknya ditangani oleh dukun. Sementara itu didaerah lain ada yang memasung anak autis karena dianggap memiliki penyakit jiwa.

"Banyak dokter di daerah yang belum begitu mengerti mengenai autisme dan juga tidak adanya pusat terapi di daerah-daerah atau pusat kesahatan yang menyulitkan orangtua untuk melakukan penanganan lebih lanjut," ungkap dokter yang juga menjadi Ketua Yayasan Autisma Indoneisa.

3. Kurangnya tenaga profesional
Anak-anak yang menunjukkan gejala autisme timbul dalam waktu yang cepat, sehingga para praktisi kesehatan belum siap untuk mengimbanginya ditambah dengan pengetahuan yang masih terbatas mengenai autisme. Dr Melly mengungkapkan bahwa pengetahuan tentang autisme semakin berkembang. Hingga kini hanya ada sekitar 40 psikiater anak yang 50 persenya berada di Jakarta.

Selain itu banyaknya dokter yang belum mengerti tentang autisme serta kurangnya tenaga profesional menyebabkan seringnya salah diagnosa seperti dikira anak kurang stimulasi, mengalami gangguan bicara, ADHD atau keterbelakangan mental. Akibatnya penanganan yang diberikan menjadi tidak tepat, sehingga perbaikan gejala yang ada menjadi lebih lambat. Hal ini bisa membuat kondisi anak autis menjadi lebih berat.

4. Pandangan masyarakat mengenai autisme
Sebagian besar masyarakat Indonesia belum mengerti tentang autisme. Mereka memiliki pandangan berbeda-beda terhadap anak autis, ada yang bilang bahwa anak autis adalah anak nakal yang sulit diatur, anak keterbelakangan menta, sakit jiwa atau kemasukan roh jahat. Selain itu tidak semua orangtua mau mengakui kondisi anaknya, masih banyak yang menolak atau menyembunyikannya karena merasa malu.

"Sayangnya banyak juga masyarakat atau lingkungan yang tidak mendukung usaha dari orangtua anak autis. Tak jarang keluarga anak autis seringkali dijauhi karena dianggap bisa menulari anaknya, atau anak autis sering diejek dan dijadikan bulan-bulanan oleh teman sebayanya," tambahnya.

5. Terapi yang mahal
Kebanyakan pusat-pusat terapi hanya berada di Jakarta dan kota-kota besar lainnya serta sulitnya mendapatkan terapis yang benar-benar mengerti cara menangani anak autis. Tak sedikit pusat terapi yang hanya bertujuan mencari uang saja dan terapis tidak dibekali pengetahuan dan kemampuan yang cukup.

Penyebab autisme sangat kompleks, karenanya tidak ada satupun obat yang bisa menyembuhkan autisme dengan cepat. Untuk memperbaiki gangguan yang ada bisa memakan waktu lama bahkan hingga bertahun-tahun, karenanya tidak semua kalangan bisa membayar terapi untuk anaknya.

6. Asuransi tidak menerima anak autis
Asuransi kesehatan memang gencar mempromosikan diri menawarkan jasanya, tapi sulit sekali mencari asuransi yang mau menerima anak autis. Alasan yang sering dikemukakannya adalah autisme "penyakit bawaan" yang tidak bisa disembuhkan. Selain itu banyak kantor yang tidak mau menanggung pengobatan anak autis karyawannya. Akibatnya penanganan untuk anak autis ini harus ditanggung sendiri oleh orangtuanya.

7. Permasalahan di sekolah
Setelah melakukan berbagai terapi selama bertahun-tahun, maka anak-anak sudah siap untuk masuk sekolah formal. Namun banyak orangtua yang bingung kemana harus memasukkan anaknya, hampir sulit sekali mencari sekolah khusus untuk anak autis. Sedikit sekali sekolah umum yang mau menerima anak berkebutuhan khusus dan terkadang harus membayar lebih mahal.

"Tidak jarang keberadaan anak autis di sekolah diprotes oleh para orangtua teman-temannya. Selain itu anak autis juga sering menjadi bahan ejekan oleh teman-temannya, dan guru yang mengetahuinya kadang tidak melarang hal ini," ujar staf psikiatri anak di RS MMC Kuningan.

8. Peran pemerintah masih minim
Peran pemerintah hingga kini masih minim dan belum bisa berbuat banyak untuk anak-anak autis di Indonesia. Padahal jika anak-anak ini tidak tertangani dengan benar akan membuatnya tumbuh menjadi sosok dewasa yang tidak bisa mandiri dan tidak mampu menghidupi diri sendiri. Hal ini tentu saja akan menajdi beban bagi keluarga maupun pemerintah.

"Masyarakat yang belum megerti perlu diberikan edukasi mengenai autisme, sehingga tidak ada lagi penghinaan, ejekan, pelecehan ataupun bullying. Dan dibutuhkan kerja sama antara masyarakat dan pemerintah untuk membantu anak-anak autis," tambahnya.

 

Last Updated on Sunday, 06 June 2010 17:30
 
 

Polling PIP

Bagaimana pendapat anda tentang website baru PIP PKS Qatar?
 

External Link


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/sloki/user/pksqatar/sites/pks-qatar.net/www/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

Statistics

Content View Hits : 1280249
Copyright © 2017 Pusat Informasi dan Pelayanan PKS Untuk Warga Indonesia di Qatar. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.