Home > Berita > Seputar Indonesia > Partisipasi Indonesia dalam Olimpiade Fisika

Main Menu


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/sloki/user/pksqatar/sites/pks-qatar.net/www/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

Login



Who's Online

We have 64 guests online

Site info..?

Giveaway of the day

Visitor Data

Partisipasi Indonesia dalam Olimpiade Fisika PDF Print E-mail
User Rating: / 1
PoorBest 
Berita - Seputar Indonesia
Written by Al-Faqir   
Tuesday, 16 February 2010 05:01

 

Partisipasi Indonesia dalam Olimpiade Fisika


Indonesia mulai ikut Olimpiade Fisika Internasional (OFI) tahun 1993. Waktu ini tidak banyak orang tahu tentang olimpiade fisika. Pemerintahpun belum melirik pada olimpiade ini, juga orang-orang di Indonesia tidak mengenal akan OFI ini. Sehingga waktu diadakan test seleksi memilih siswa-siswa, hanya 56 siswa yang ikut test seleksi awal. Dari 56 siswa ini dipilih 5 siswa. Siswa ini dilatih selama 2 bulan. Hasilnya ternyata Indonesia mampu meraih 1 medali perunggu (atas nama Oki Gunawan) dan 1 honorable mention (atas nama Jemmy Widjaja) dalam Olimpiade Fisika Internasional ke 24 di Amerika Serikat. Indonesia menempati posisi ke 16 dari 41 negara. Hasil ini sangat menggembirakan dan mendorong kami untuk meneruskan partisipasi Indonesia dalam OFI ini.

 

 

 

 

Tahun 1994, Indonesia ikut serta dalam OFI XXV di China. Pembinaan kali ini hanya 1 bulan, dan hasilnya kita tidak mendapat apa-apa. Melihat keadaan ini, kami memutuskan untuk lebih konsentrasi dalam membina tim olimpiade fisika Indonesia. Selama 5 bulan peserta ditraining jarak jauh dan 2 bulan ditraining intensif. Hasilnya ternyata sangat menggembirakan. Untuk pertama kali Indonesia meraih medali perak (atas nama Teguh Budimulia). Dalam OFI ke-26 di Canberra itu peserta Indonesia meraih hadiah semua yaitu 1 perak, 1 perunggu dan 3 honorable mention. Pola pembinaan 2 bulan intensif dan 5 bulan jarak jauh ini berlangsung sampai tahun 1998 dan hasilnya adalah antara perunggu dan perak. Tahun 1999 mulai dipikirkan pembinaan yang lebih baik. Kali ini pembinaan dilakukan 7 bulan intensif dan fokus pada pembenahan eksperimen dimana kita selalu mendapat nilai rendah. Ternyata hasilnya sangat menggembirakan. Indonesia untuk pertamakalinya meraih medali emas (atas nama Made Agus Wirawan) disamping 1 perak, 2 perunggu dan 1 honorable mention di Padua Italia pada OFI ke –30. Disini mulai diperoleh pola pembinaan yang lebih baik. Tahun 2000, Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade Fisika Asia. Penyitaan waktu yang besar dalam penyelenggaraan OFA mengakibatkan tidak terkonsentrasinya pembinaan.Akibatnya dalam OFA, Indonesia hanya merebut 1 perak (atas nama Zainul Abidin), 1 perunggu dan 2 honorable mention dan dalam OFI kita hanya merebut 4 perunggu dan 1 honorable mention. Tahun 2001 tim Indonesia mulai dipersiapkan lebih serius dengan memperbaiki segala kekurangan-kekurangan yang ada dalam pembinaan. Hasilnya adalah Indonesia meraih 1 medali emas, 1 medali perak dan 2 perunggu dan 3 honorable mention dalam OFA ke -2 di Singapore dan 2 perak, 2 perunggu dan 1 honorable mention dalam OFI ke -32 di Turki. Dengan hasil-hasil ini pemerintah mulai banyak memberikan perhatian pada OFI.

Tahun 2002 Indonesia menjadi tuan rumah OFI. Pemerintah mempunyai target untuk sukses dalam pelaksanaan, sukses dalam presitasi dan sukses menjadi tuan rumah yang baik. Dengan pelatihan selama 1 tahun penuh, target pemerintah untuk sukses dalam prestasi berhasil diraih. Yaitu Indonesia meraih 3 medali emas (atas nama Peter Sahanggamu, Widagdo Setiawan dan Fadjar Ardian), 1 perak dan 1 perunggu dalam OFI ke -33 di Bali, Juli 2002. Dua bulan sebelumnya di Singapore dalam OFA ke -3 Indonesia juga merebut 1 medali emas (atas nama Rezy Pradipta) dan 5 perunggu. Melalui pelatihan intensif 1 tahun ternyata Indonesia mampu meraih emas. Ini mendorong kami untuk meneruskan pola pembinaan dan pelatihan yang ada.

Pada OFA ke -4 di Thailand bulan Juli 2003, Indonesia secara gemilang meraih juara se Asia dengan merebut 6 medali emas (atas nama Widagdo, Yudistira, Bernard, Rangga, Triwiyono, dan Hani) dan 2 honorable mention. Hasil ini sangat luar biasa karena bisa mengalahkan Taiwan, yang selama ini dikenal sebagai juara dunia bersama-sama dengan China.

Tim Olimpiade Fisika Internasional ke-37 dinilai sebagai tim yang paling sukses sejak pertama kali Indonesia ikut ajang berskala dunia ini pada 1993. Tim Merah Putih terdiri dari empat pelajar sekolah menengah atas dan satu siswa menengah pertama. Mereka adalah Jonathan Pradana Mailoa dan Pangus Ho dari Jakarta, Andi Oktavian Latif dari Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Irwan Adi Putra dari Pekanbaru, Riau, serta Muhammad Firmansyah Kasim dari Makassar, Sulawesi Selatan.
Olimpiade Fisika Internasional mempertandingkan fisika teori dan eksperimen. Mulai dari mengukur panas telur pada suhu air mendidih hingga menghitung energi yang dihasilkan petir.
Kelima pelajar mempersembahkan empat medali emas dan satu perak. Tim Merah Putih juga menerima penghargaan peserta dengan nilai total tertinggi 47,20 atas nama Jonathan. Ia menyingkirkan pesaingnya dari Cina dan Hongaria. (sumber: site-nya bapak Surya, liputan6 dan berbagai sumber).


 

 

 

 

 

Last Updated on Sunday, 06 June 2010 17:31
 
 

Polling PIP

Bagaimana pendapat anda tentang website baru PIP PKS Qatar?
 

External Link


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/sloki/user/pksqatar/sites/pks-qatar.net/www/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

Statistics

Content View Hits : 1273356
Copyright © 2017 Pusat Informasi dan Pelayanan PKS Untuk Warga Indonesia di Qatar. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.